Selain Varian Omicron, 4 Jenis Virus Corona Lain Juga Diwaspadi

.
. (Net)

KLIKPOSITIF - Dalam dua tahun terakhir, virus corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, telah bermutasi beberapa kali menjadi berbagai varian baru. Hingga kini, mutasi terbarunya adalah varian Omicron.

Banyak dari mutasi SARS-CoV-2 menunjukkan perubahan terjadi pada protein lonjakan, yang digunakan virus untuk menempel dan menginfeksi sel manusia.

baca juga: Kenapa Creatine Digunakan Atlet dan Tidak Termasuk Doping?

utasi genetik tersebut dalam beberapa kasus meningkatkan penularan dan bahkan beberapa berisiko meningkatkan keparahan penyakit.

WHO menetapkan varian Omicron sebagai Variant of Concern (VOC) atau varian yang diwaspadai.

baca juga: Politisi NasDem: Jangan Hanya Fokus Penanganan Pandemi Covid-19, Imunisasi Dasar Lengkap Penting

Selain Omicron, berikut beberapa varian mutasi SARS-CoV-2 yang juga termasuk dalam VOC dilansir Live Science:

1. Varian Alpha (B.1.1.7)

baca juga: Belum Juga Vaksinasi COVID-19, Djokovic Kini Juga Terancam Gagal Berpartisipasi di Roland Garros

WHO mengatakan varian ini pertama kali ditemukan di Inggris pada September 2020. Varian telah menyebar ke setidaknya 114 negara.

Varian Alpha memiliki 23 mutasi dibanding SARS-CoV-2 (varian asli), dengan 8 di antaranya terjadi di protein lonjakannya.

baca juga: Darul Siska Pertanyakan Harga Obat Diatas HET, Minta Kemenkes Turun Tangan

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat varian ini sekitar 50% lebih mudah menular daripada varian asli virus corona Covid-19. Varian ini juga berisiko menyebabkan Covid-19 parah.

2. Varian Beta (B.1.351)

Varian Beta sebelumnya disebut B.1.351, pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada Mei 2020 dan ditetapkan sebagai VOC pada Desember 2020. Global Virus Network, mencatat varian sudah terdeteksi di setidaknya 48 negara.

Berbeda dari varian Alpha, varian Beta memiliki 8 mutasi berbeda yang dapat memengaruhi cara virus mengikat sel manusia.

B.1.351 ini sekitar 50% lebih mudah menular daripada varian asli SARS-CoV-2. CDC mengatakan beberapa antibodi monoklonal dan vaksin tidak bekerja dengan baik, atau efektivitasnya berkurang, dalam melawan varian ini.

Varian ini juga dapat menyebabkan penyakit yang sedikit lebih parah dan risiko kematian yang lebih tinggi daripada virus corona asli.

3. Varian Gamma (P.1)

Awal mulanya varian Gamma atau P.1 didokumentasikan di Brasil pada November 2020 dan ditetapkan sebagai VOC pada 11 Januari 2021. Varian ini telah tersebar di 74 negara di seluruh dunia.

Gamma terkait erat dengan Beta, dan dua varian ini berbagi beberapa mutasi yang sama dalam protein lonjakannya. Beberapa riset menunjukkan varian Gamma sekitar dua kali lipat lebih mudah menular daripada garis keturunan varian induknya, B.1.1.28.

Infeksi Gamma terkait dengan viral load yang jauh lebih tinggi daripada varian lainnya. Gamma menunjukkan kerentanan yang lebih rendah terhadap beberapa pengobatan antibodi monoklonal, termasuk bamlanivimab dan etesevimab.

Menurut riset yang terbit di 12 Mei di jurnal Cell Host & Microbe, varian tersebut tampak relatif resisten terhadap netralisasi oleh plasma konvalesen.

4. Varian Delta (B.1.617.2)

Varian Delta pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020, dan diberi label sebagai VOC pada Mei 2021. Varian telah menyebar dengan cepat di lebih dari 100 negara dan menjadi strain dominan di seluruh negara di dunia.

B.1.617.2 memiliki beberapa mutasi penting pada protein lonjakan, dan dua dari mutasi tersebut memungkinan varian ini menempel lebih kuat pada reseptor ACE2. Sementara mutasi lainnya memungkinkan Delta menghindari kekebalan inang.

Delta dianggap sebagai versi virus corona baru yang paling mudah menular hingga saat ini, risikonya hingga 60% lebih mudah menular daripada Alpha dan dua kali lebih menular dari varian virus corona asli.

Selain itu, beberapa bukti menunjukkan varian tersebut dapat lebih mudah menghindari vaksin Covid-19 saat ini.

Editor: Eko Fajri