Sering Merasakan Dehidrasi, Ini Sejumlah Penyebabnya yang Jarang Diketahui

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF - Dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh adalah kondisi aat tubuh kehilangan air lebih banyak yang dari kita minum. Kondisi ini umumnya terjadi usai melakukan aktivitas fisik, misalnya setelah berolahraga.

Namun terdapat berbagai kondisi yang tak banyak diketahui yang juga bisa memicu dehidrasi. Berikut ini sejumlah penyebab dehidrasi yang jarag diketahui:

Konsumsi alkohol

baca juga: Buah Baik untuk Kesehatan, Tapi Berlebihan Juga Bisa Membawa Akibat Buruk

Salah satu efek minum alkohol adalah mencegah kerja hormon antidiuretik untuk menyerap kembali cairan yang telah dikonsumsi. Alkohol juga memiliki efek diuretik yang menyebabkan cairan lebih mudah memasuki kandung kemih untuk dikeluarkan. Kedua proses tersebut dapat mengurangi kadar cairan tubuh secara signifikan. Terlebih lagi alkohol dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi air lebih sedikit karena penurunan kemampuan untuk merasakan haus dan rasa lelah.

Stress

baca juga: Tape Ketan Bisa Jadi Cemilan Sehat, Ternyata Ini Sejumlah Manfaatnya

Tubuh dapat kehilangan kemampuan mengendalikan cairan dan elekrolit akibat penurunan kadar hormone aldosterone yang dipicu hormone adrenal dan kondisi stress. Saat mengalami stress kronis konsumsi air minum mungkin dapat mengatasi dehidrasi sementara waktu namun mengendalikan dengan stress dapat membantu fungsi regulasi cairan dan elektrolit.

Diabetes

Seseorang yang mengalami diabetes, terutama jika ia tidak menyadarinya, akan lebih berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi diabetes menyebabkan dehidrasi karena tubuh akan selalu berusaha menyeimbangkan kadar glukosa darah berlebih lewat pembuangan urin yang lebih sering dari normalnya.

baca juga: Anda Sering Buang Air Kecil di Malam Hari? Kenali Kondisi Ini

Menstruasi

Hormon estrogen dan progesteron memengaruhi kadar cairan tubuh. Saat keduanya mengalami perubahan, seperti selama menstruasi, konsumsi air rutin diperlukan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Terlebih lagi jika darah yang dikeluarkan terlalu banyak maka kehilangan cairan dapat terjadi secara besar-besaran.

baca juga: Kembali Selidiki Asal Usul Virus Corona Hingga Jadi Pandemi, WHO Bentuk Tim SAGO

Konsumsi obat tertentu

Beberapa jenis obat memiliki efek samping dengan cara meningkatkan frekuensi urinasi, salah satunya obat diuretik yang dikonsumsi oleh penderita hipertensi. Obat lainnya yang menyebabkan diare dan muntah-muntah akibat rasa mual juga berpotensi pada pengeluaran cairan tubuh berlebih.

Diet rendah karbohidrat

Karbohidrat merupakan jenis nutrisi yang disimpan bersamaan dengan air, itulah sebabnya mengap berat badan bisa turun secara signifikan setelah menjalani diet karbo. Namun mengurangi porsi karbohidrat artinya kadar cairan tubuh juga dapat menurun.

Inflammatory bowel syndrome (IBS)

Inflammatory bowel syndrome (IBS) adalah penyakit yang menyebabkan diare dan rasa mual. Terlebih lagi makanan pemicu IBS merupakan jenis makanan yang mengandung banyak air. Mengurangi konsumsi makanan yang dianggap pemicu IBS dapat menyebabkan tubuh mendapatkan cairan lebih sedikit.

Kehamilan dan menyusui

Kondisi kehamilan membuat seseorang membutuhkan cairan yang lebih banyak dibandingkan biasanya, terlebih lagi jika cairan saat hamil terbuang lewat morning sickness. Selain itu saat proses menyusui kadar air tubuh juga cenderung berkurang bersamaan dengan elektrolit, protein dan nutrisi lainnya.

Tinggal di dataran tinggi

Saat berada ke dataran tinggi yang lebih dingin, tubuh beradaptasi dengan meningkatkan frekuensi bernapas dan pengeluaran urin. Kedua proses tersebut diperlukan untuk menyeimbangkan kadar oksigen sehingga cairan lebih banyak dikeluarkan melalui uap air pernapasan dan urinasi.

Editor: Ramadhani