Hati-Hati, Kelebihan Bekerja Bisa Berdampak Kematian

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF - WHO menyatakan pandemi telah mempercepat laju tren peningkatan jam kerja.Badan Kesehatan Dunia itu memperkirakan setidaknya 9% orang bekerja melebihi jam kerja normal.

Dalam studi yang diterbitkan di Environment Internasional (17/5/2021), WHO menganalisis secara global hubungan antara jam kerja yang panjang dan kematian. WHO dan ILO memperkirakan, pada 2016 sekitar 745.000 orang meninggal akibat bekerja setidaknya 55 jam dalam sepekan, yang berarti 11 jam/hari jika bekerja 5 hari dalam seminggu.

baca juga: Ini Pengobatan Rumahan yang Dapat Meredakan Gejala Gatal pada Miss V

Dari total kematian akibat jam kerja yang panjang, sekitar 398.000 karena stroke dan 347.000 karena penyakit jantung. Bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu dikaitkan dengan risiko stroke 35% lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyakit jantung 17% lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja hanya 35 hingga 40 jam.

Sebagian besar kematian terjadi pada orang berusia 60-79 tahun yang telah bekerja 55 jam seminggu ketika ia berusia 45-74 tahun. Peneliti juga mencatat, dampak buruk menjalani jam kerja yang panjang paling parah berdampak pada laki-laki, sebanyak 72% dari total kematian. WHO mengatakan ada dua cara di mana jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

baca juga: Penelitian: Satu Dosis Vaksin AstraZeneca Bisa Berikan Tingkat Perlindungan 88 Persen

Pertama, stres secara psikologis akibat bekerja berjam-jam dapat memicu reaksi pada sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Kedua, stres akibat jam kerja yang panjang bisa memicu perilaku-perilaku buruk yang dianggap sebagai faktor risiko penyakit jantung dan stroke. Perilaku buruk tersebut di antaranya, merokok, minum alkohol, pola makan buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan gangguan tidur.

Laporan tersebut bahkan menyatakan bahwa jam kerja yang panjang diperkirakan bertanggung jawab atas sepertiga dari semua penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. WHO menekankan pada para pengusaha agar mempertimbangkan hasil studi ini dalam mengatur jam kerja karyawannya.

baca juga: Gubernur Sumbar: Kekompakan Umat Kunci Selamatkan Bangsa dari Krisis Akibat Pandemi Covid-19

Pengaturan jam kerja yang sehat perlu menjadi perhatian terutama pada masa pandemi COVID-19 saat ini. Jumlah yang bekerja lebih dari 55 jam dalam sepekan terus meningkat, saat ini diperkirakan jumlahnya mencapai 9% dari populasi global. Beberapa analisis secara khusus menyoroti adanya tren peningkatan jam kerja karena beberapa alasan, salah satunya metode bekerja dari rumah atau work from home (WFH) yang membuat karyawan sulit membedakan jam kerja dan jam istirahat.Data Badan Pusat Statistik Inggris (ONS) menemukan, orang yang bekerja dari rumah selama pandemi rata-rata melakukan 6 jam kerja lembur yang tidak dibayar dalam sepekan. Sebagai perbandingan, orang-orang yang tidak bekerja dari rumah rata-rata hanya melakukan 3,6 jam kerja lembur tanpa dibayar dalam sepekan.

Editor: Ramadhani