Studi WHO: Gawat, Ini Resiko Kesehatan Bekerja 55 Jam atau Lebih Per Minggu

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Menunjukkan dedikasi kepada perusahaan dengan bekerja keras memang baik, tapi bukan berarti jadi tidak memperhatikan kesehatan dengan terlalu banyak melakukan lembur .

Sebuah studi terbaru yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Organisasi Perburuhan Internasional menemukan bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu telah menewaskan 745.194 orang pada 2016.

baca juga: Kenapa Creatine Digunakan Atlet dan Tidak Termasuk Doping?

Ini adalah studi pertama yang menganalisis risiko kesehatan yang dihubungkan dengan panjangnya durasi jam kerja, mengutip Insider.

Hasilnya peneliti mendapati sebanyak 745.194 orang meninggal karena stroke atau sakit jantung , yang berkaitan erat dengan bekerja selama 55 jam dalam seminggu pada tahun 2016. Angka ini naik 29 persen dibanding tahun 2000.

baca juga: Politisi NasDem: Jangan Hanya Fokus Penanganan Pandemi Covid-19, Imunisasi Dasar Lengkap Penting

"Bekerja 55 jam atau lebih per minggu adalah bahaya kesehatan yang serius," ujar Dr. Meira Neira, Direktur Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kesehatah WHO dalam keterangan persnya.

Mirisnya, mayoritas kematian 72 persen dialami laki-laki yang tinggal di kawasan Pasifik Barat dan Asia Tenggara.

baca juga: Belum Juga Vaksinasi COVID-19, Djokovic Kini Juga Terancam Gagal Berpartisipasi di Roland Garros

Studi juga menunjukkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu meningkatkan 35 persen risiko stroke , dan kematian akibat sakit jantung istemik 17 persen lebih berisiko dibandingkan pada mereka yang bekerja hanya 35 hingga 40 jam per minggu.

Menurut Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Ghebreyesus, tren bekerja dari rumah juga berkontribusi meningkatnya kematian dini akibat terlalu banyak lembur . Ini kareja makin banyak orang yang tidak bisa membedakan antara rumah dan kantor.

baca juga: Pemerintah Sebut Program PEN Dorong Turunnya Angka Pengangguran

"Selain itu, banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan dana operasional untuk menghemat pengeluaran, dan akhirnya orang masih dengan gaji sama bekerja berjam-jam lebih lama," tukas Ghebreyesus.

Editor: Eko Fajri