Mutasi Virus Corona Ditemukan di Indonesia, Ini Kata Dokter Siti Nadia Tarmizi dan Profesor Amin Subandrio

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

KLIKPOSITIF - Mutasi virus corona dikonfirmasi ditemukan di Indonesia pada Senin 1 Maret 2021 lalu. Belakangan diketahui bahwa mutasi virus corona itu merupakan B117 yang pertama ditemukan di Inggris.

Dalam keterangan yang diterima Suara.com, media jaringan KLIKPOSITIF .com, Senin 8 Maret 2021, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, juru bicara vaksinasi Covid -19 dari Kementerian Kesehatan, mengklaim bahwa temuan ini merupakan hasil dari penguatan 3T, terutama dari sisi testing dan tracing yaitu melalui peningkatan kegiatan pengurutan genom menyeluruh (Whole Genome Sequencing/WGS) serta penguatan kapasitas laboratorium untuk mendeteksi virus varian baru di seluruh Indonesia.

baca juga: Andre Rosiade: Jangan Takut, Stok Vaksin Covid-19 Aman

"Temuan ini menunjukkan kemampuan dan kapasitas dari laboratorium Balitbangkes Kemenkes dalam melakukan metode Whole Genome Sequencing (WGS)," ujarnya.

Lebih lanjut dr. Nadia mengatakan bahwa virus Corona adalah tipe virus RNA (ribonucleic acid) yang secara alami mudah mengalami mutasi dan mutasi memang merupakan kemampuan virus untuk bertahan hidup.

baca juga: WHO: 4 Minggu Terakhir Infeksi Covid Meningkat 80 Persen

"Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa virus mutasi Covid -19 ini lebih tinggi tingkat keganasannya dibanding virus Covi-19 yang ada sebelumnya, namun, beberapa penelitian di negara lain menunjukkan varian virus baru ini lebih cepat menular. Namun, kecepatan penularan mutasi virus tersebut tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit, namun penelitian terkait varian baru ini terus dilakukan," ujar dr. Nadia.

Dokter Nadia juga menambahkan bahwa vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi COVID -19 yang saat ini sedang berjalan masih efektif untuk mencegah penularan mutasi virus.

baca juga: Hari Ini 70 Orang Warga Pasbar Positif Corona, 4 Diantaranya Meninggal Dunia

"Para peneliti yang mendalami virus Corona B.1.1.7 mengonfirmasi bahwa efektivitas inokulasi terhadap virus masih ada di level yang bisa diterima sehingga sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin," ucap dia.

Meskipun tingkat keganasan varian baru virus Covid -19 ini belum diketahui, namun dengan kemampuan penularan yang lebih tinggi, masyarakat diharapkan lebih waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, serta mensukseskan program vaksinasi Covid -19.

baca juga: Rumah Sakit Kekurangan SDM Atasi COVID-19, Ini Solusi dari Gubernur Sumbar

"Menjelang libur panjang akhir pekan ini, kami himbau dengan sangat masyarakat untuk menahan diri dan tidak bepergian dulu mengingat setelah libur panjang, umumnya terjadi peningkatan kasus positif Covid -19 dari kluster keluarga," seru dr. Nadia.

Prof. Amin Subandrio dari Eijkman Institute for Molecular Biology mengatakan dua temuan kasus varian B.1.1.7 di Indonesia merupakan hasil temuan dari proses analisis WGS.

"Deteksi varian B.1.1.7 dilakukan melalui proses analisis Whole Genome Sequencing (WGS) yang membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa lebih dari 1 atau 2 minggu," ucap beliau.

Prof. Amin mengatakan proses pemeriksaan WGS membutuhkan waktu hingga hasilnya dapat keluar.

"Kasus tersebut tiba di Indonesia pada ahir Januari 2021, kemudian dilakukan tes PCR, lalu suspek dikarantina selama 5 hari. Setelah itu dilakukan tes PCR kembali. Barulah beberapa hari setelahnya dilakukan proses analisa WGS. Hasilnya baru diperoleh pada 1 Maret malam dan segera dilaporkan. Proses analisa WGS bukanlah pemeriksaan rutin dan tidak semua sampel dengan hasil tes PCR yang positif dianalisa dengan proses ini," jelas Prof. Amin.

Menurut Prof. Amin, tidak ada perlakuan khusus yang dibutuhkan dalam menghadapi mutasi virus ini, karena mutasi merupakan sifat alami dari virus. "Aktifitas testing dan tracing harus lebih cepat dan giat dilakukan, termasuk melakukan proses analisa WGS," ujar Prof. Amin.

Sumber : suara.com

Editor: Haswandi