Berbeda dengan Mata Minus, Kenali Penyebab Mata Silinder

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Astigmatisme atau dikenal dengan mata silinder merupakan gangguan yang menyebabkan kesalahan bentuk kornea sehingga memiliki bentuk lekukan yang tidak beraturan.

Biasanya pada gangguan ini akan mengubah cahaya pada retina mata yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur.

baca juga: Virus Corna B117 Masuk Indonesia, Seberapa Bahayakah? Ini Jawab Pakar

Berbeda dengan miopi (mata minus), astigmatisme tidak dapat bertambah jika sudah menemukan kacamata dengan lensa ukuran yang pas.

Selain itu, penyebab astigmatisme juga berbeda dengan miopi.

baca juga: Terima Perintah Penyelidikan Dugaan Korupsi Dana Covid-19, Polda Sumbar Bentuk Tim

Berikut ini adalah penyebab, gejala, dan perawatan astigmatisme atau mata silinder seperti yang telah dilansir dari Healthline dan Web MD.

Penyebab

baca juga: Mutasi Virus Corona Baru B117 Ditemukan di Indonesia, Jawaban Jubir Satgas Covid-19 Timbulkan Tandatanya

Biasanya, orang menderita astigmatisme karena keturunan atau bawaan lahir. Namun, astigmatisme juga bisa terjadi setelah hal-hal yang menyebabkan cedera, penyakit mata , atau pascaoperasi.

Berbeda dengan miopi yang disebabkan karena membaca dalam cahaya yang redup dan menonton televisi dan ponsel terlalu dekat, astigmatisme tidak bisa terjadi karena hal tersebut.

baca juga: Cegah Gangguan Pendengaran Sejak Dini dengan Cara Ini

Gejala

Gejala astigmatisme berbeda pada setiap orang. Dalam beberapa kasus astigmatisme, terdapat orang yang tidak memiliki gejala sama sekali. Berikut beberapa gejala astigmatisme yang sering terjadi

- Penglihatan kabur, terdistorsi, atau berbayang di semua jarak (dekat dan jauh)

- Kesulitan melihat di malam hari

- Mata menjadi tegang

- Sering menyipitkan mata

- Terjadi iritasi pada mata

- Sakit kepala

Cara mengetahui astigmatisme

Astigmatisme dapat diketahui saat mengunjungi dokter. Biasanya saat muncul gejala, seseorang akan menemui dokter.

Dokter akan menguji ketajaman penglihatan dengan meminta membaca grafik mata . Selain itu, terdapat alat yang digunakan untuk membantu mengetahui kondisi mata , seperti:

1. Phoropter

Alat yang membantu melihat melalui serangkaian lensa. Alat ini digunakan untuk menemukan lensa yang memberi penglihatan paling jelas.

2. Keratometer / topografer

Mesin ini menggunakan lingkaran cahaya untuk mengukur lekukan kornea pada mata .

3. Autorefractor

Alat ini akan menyinari mata dan mengukur perubahannya saat memantul ke belakang. Hal Ini memberi dokter gambaran tentang lensa mana yang dibutuhkan.

Pengobatan atau perawatan astigmatisme

Dalam beberapa kasus astigmatisme ringan, tidak diperlukan pengobattan khusus. Namun, ketika astigmatisme sudah mengganggu pengelihatan, diperlukan beberapa hal untuk mengurangi, bahkan mengobati astigmatisme, di antaranya:

1. Kacamata

Menggunakan kacamata korektif atau lensa kontak yang disarankan dokter adalah salah satu cara untuk mengurangi astigatisme. Hal ini agar pengelihatan menjadi lebih baik saat menggunakannya. Selain itu, astigmatisme tidak berpotensi bertambah jadi penggunaan kacamata sangat membantu.

2. Orthokeratology (Ortho-K)

Orthokeratology (Ortho-K) adalah perawatan yang menggunakan lensa kontak kaku untuk sementara memperbaiki kelengkungan kornea Anda yang tidak teratur. Biasanya, seseorang akan memakai lensa kontak kaku untuk jangka waktu terbatas.

Lensa kontak ini juga bisa dipakai saat tidur dan kemudian melepasnya di siang hari. Namun, manfaat Ortho-K hanya ada saat menggunakannya sehingga ketika melepasnya pengelihatan akan kembali seperti semula.

3. Operasi

Dalam beberapa kasus parah, biasanya dokter menyarankan untuk melakukan operasi mata . Operasi yang digunakan biasanya menggunakan laser untuk membentuk kembali kornea mata . Sama halnya dengan miopi, operasi ini akan memperbaiki astigmatisme secara permanen.

Editor: Eko Fajri