Ini yang Didorong Warsi dalam Konsep "Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera"

Salah satu kawasan PLTMH di Solok Selatan.
Salah satu kawasan PLTMH di Solok Selatan. (KLIKPOSITIF/Satria Putra)

KLIKPOSITIF - Konsep Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM) yang diusung Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi sudah dikembangkan di 12 kabupaten kota se-Sumbar. Konsep yang juga terkenal dengan jargon "Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera" ini telah dikembangkan di Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Padang Pariaman,
Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawah lunto, dan Kota Solok.

Menurut Manager Advokasi dan Kebijakan Warsi Rhainal Daus, berdasarkan pengalaman pihaknya sejak 2000 dalam berinteraksi dengan masyarakat, pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat berbasis kearifan lokal terbukti mampu memperbaiki kualitas lingkungan dan meningkatkan sumber ekonomi.

baca juga: Dinas Kebudayaan Sumbar Libatkan 16 Komunitas Seni Sosialisasikan MTQ Nasional Saat Panemi COVID-19

"Inilah kenapa Warsi memilih pendekatan berbasis masyarakat," ujarnya dalam sesi diskusi yang digelar di Solok Selatan beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, ada 5 poin yang didorong Warsi dalam konsep ini. Pertama mendorong legalitas semua SDA agar bisa diperoleh masyarakat. Kalau pakai pendekatan pemerintah, kata dia, Pengeloaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) yang dimaksud hanya di dalam kawasan hutan. Kalau konsep Warsi, masyarakat bisa mengelola di dalam dan di luar kawasan hutan.

baca juga: Merajut Senyum Anak Yatim di Pelosok Kabupaten Solok

Poin kedua, Warsi juga mendorong terbentuknya kelembagaan kuat yang mampu mengelola di level masyarakat. Ia mencontohkan di sektor kehutanan ada Lembaga Pengelola Hutan Nagari di masing-masing nagari. Selanjutnya, Warsi mendorong masyarakat punya sumber ekonomi yang mampu dikelola sendiri. Sumber ekonomi itu pertama, pengembangan agroforest (tanaman campur) yang di dalamnya cukup lengkap, seperti jengkol, karet, durian dan lain.

"Dari hasil penelitian, agroforest ini hampir mendekati fungsi hutan untuk lingkungan. Selain lingkungan, ini juga sesuai dengan kearifan masyarakat yang dari dulu berladang," ujarnya.

baca juga: Hari Kesaktian Pancasila, Staf Khusus BPIP Dorong Elite Politik Bersikap Dewasa Tentang Isu Ini

Sumber ekonomi kedua adalah mendorong peningkatan energi terbarukan. Tahun ini Warsi akan mendorong revitalisasi 5 unit  PLTMH. Kondisi saat ini, 5 unit PLTMH yang sudah dibangun pemerintah tak mampu lagi berfungsi menopang kebutuhan energi lokal. Revitalisasi ini dilakukan agar sumber energi bisa beroperasi dan bisa dimanfaatkan untuk menunjang sumber ekonomi masyarakat.

"Rencana ke depan kita akan dukung pengelolaan pertanian organik. Nanti, mesin penggiling yang digunakan akan mengambil energi dari PLTMH tadi," tuturnya.

baca juga: Tepis Anggapan Seni Tak Menghidupi, Batajau Dirikan Perusahaan

Sumber ekonomi ketiga adalah peningkatan HHBK (hasil hutan bukan kayu) yang banyak ditemukan di hutan. Ketika legalitas didapatkan, ia melanjutkan, maka potensi hutan bisa dikembangkan untuk mendukung ekonomi masyarakat. Karena dalam hutan banyak potensi seperti rotan, getah-getahan, buah-buahan dan Warsi berencana mengembangkan madu lebah yang dikelola masyarakat.

Poin keempat yang didorong Warsi adalah masyarakat punya kemampuan menyuarakan hak kepada pemerintah. Agar segala perencanaan yang disusun masyarakat bisa dikomunikasikan ke dalam rencana pembangunan daerah.

"Kelima, kita dorong pembangunan inftastruktur karena penting untuk mendorong kesejahteraan tadi. Sejak ada hutan nagari sudah ada beberapa infrastruktur yang kita bangun seperti akses jalan, air bersih dan irigasi," ucapnya.

[Satria Putra]

Penulis: Elvia Mawarni