Berulangkali Ayahnya Jalani Pengobatan ke RS Karena Sakit Diabetes dan Stroke, Randi: Untung Jadi Peserta JKN-KIS

Slaah satu peserta JKN-KIS asal Pasaman, Aspiwija (47 tahun)
Slaah satu peserta JKN-KIS asal Pasaman, Aspiwija (47 tahun) (Ist)

PASAMAN, KLIKPOSITIF - Randi (21 tahun), mahasiswa asal Pasaman menceritakan manfaat yang dirasakan keluarganya semenjak jadi peserta JKN-KIS. Ia mengungkapkan bahwa ayahnya yang merupakan seorang petani, merupakan peserta Peneriman Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di daerah Dua Koto, Pasaman.

"Awalnya ayah saya terkena penyakit diabetes pada 2014 lalu dan terpaksa harus mendapatkan pengobatan ke rumah sakit. Namun Alhamdulillah saat itu ayah telah terdaftar sebagai peserta Jamkesmas (sebelum JKN-KIS), sehingga biaya pengobatan tidak ditanggung oleh rumah sakit tempat ayah berobat," ujar Randi

baca juga: Presiden RI Lantik Jajaran Direksi BPJAMSOSTEK Periode 2021-2026, Optimis Jamin Perlindungan Jamsos Menyeluruh

Selama menemani ayahnya menjalani pengobatan di rumah sakit, ia hanya fokus saja kepada kesehatan ayahnya. Ia dan keluarga tak perlu merasa cemas terkait biaya perawatan dan biaya obat yang dia dengar dari orang-orang seringkali sangat mahal.

Sembuh dari Diabetes, ayah saya terkena penyakit berbeda pada 2018 yakni Stroke. Ia dan sekeluarga merasa cemas dengan kondisi ayahnya tersebut dan harus membawanya ke Rumah Sakit. Lagi-lagi, ia tak perlu keluar biaya banyak dalam perawatan dan pengobatan ayahnya tersebut, karena ayahnya merupakan peserta Jamkesmas (sebelum JKN-KIS), pihak rumah sakit tidak menagih biaya pada keluarganya.

baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Tanah Datar Bayarkan Klaim Asuransi Rp19,2 Miliar Selama 2020

"Alhamdulillah sekali. Padahal saya yakin jika bukan peserta PBI Jamkesmas, biayanya pasti tidak murah dan kami pasti akan bingung hendak mendapatkan uang dimana untuk membayar biaya pengobatannya," kata Randi yang sering menemani ayahnya berobat.

Randi mengungkapkan, sampai saat ini pun ayahnya masih harus mendapatkan pengobatan namun hanya dengan konsumsi obat secara berkala saja. Ayahnya diminta untuk menjumlah beberapa paket obat untuk dikonsumsi agar tetap sehat. Untuk biaya obat pun, ayahnya tidak diminta uang oleh pihak Faskes.

baca juga: Soal Kasus BPJamsostek, Sarbumusi, KSPN dan KSBSI Angkat Bicara

"Sejak tahun lalu, itu ayah saya telah menerima kartu JKN-KIS dan saat pengobatan ayah saya tetap sama, tak dipungut biaya saat berobat. Palingan ayah saya hanya terkena biaya perjalanan kesana seperti biaya transportasi," tutur Randi.

Ia menyampaikan rasa syukur bahwa ayahnya dapat menjadi peserta JKN-KIS. Karena menurutnya, keluarganya tak akan memiliki uang jika harus menanggung biaya berobat ayahnya.

baca juga: Kemenkes: Pandemi Covid-19 Sebabkan Jumlah Pengobatan Pasien Kanker Menurun

"Semoga program ini terus berjalan sehingga kami masyarakat ekonomi menengah ke bawah tak perlu cemas lagi untuk berobat," katanya.(*)

Editor: Khadijah