Bunda Harus Tahu, Ahli Gizi Ungkap Resiko Bagi Anak yang Tidak Sarapan di Pagi Hari

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Sarapan menjadi kebutuhan penting untuk anak sebelum menjalani rutinitasnya seperti melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di rumah, saat masa pandemi Covid-19.

Namun sangat disesalkan masih banyak orangtua yang belum menyadari pentingnya sarapan bagi anak. Padahal, melewatkan sarapan memiliki risiko kesehatan yang cukup membahayakan.

baca juga: Ini Pengobatan Rumahan yang Dapat Meredakan Gejala Gatal pada Miss V

Menurut Ahli gizi dr. Rita Ramayulis, orangtua perlu menyadari anak tak sarapan bisa menurunkan prestasi karena mereka akan mudah merasa letih dan tak konsentrasi.

"Tidak sarapan membuat anak susah payah dan ekstra keras untuk belajar. Itulah pentingnya orang tua selalu menyediakan zat gizi dengan baik," ujar Rita dalam pernyataannya secara virtual, Kamis (19/11/2020).

baca juga: Jangan Sembarangan Pilih Warna Baju Renang Bagi Anak, Sebaiknya Hindari Warna Ini

Tak hanya itu, anak juga akan kesulitan dan malas-malasan saat menjawab pertanyaan guru atau lambat dalam berpikir saat melakukan PJJ di rumah. Alhasil, mereka kehilangan kesempatan menjadi juara kelas.

Dia menambahkana anak juga biasanya akan mengalami anemia atau kurang zat besi. Sehingga mereka cepat lemah, letih dan lesu serta rentan sakit.

baca juga: Penelitian: Satu Dosis Vaksin AstraZeneca Bisa Berikan Tingkat Perlindungan 88 Persen

"Anak yang melewatkan sarapan bisa kehilangan gizi kompleks. Bisa terlihat lebih kurus atau lebih gemuk dengan indeks masa tubuh yang tak seimbang," jelasnya.

Dengan demikian, anak diwajibkan untuk sarapan yang memiliki kandungan glukosa dan berbagai vitamin serta mineral lainnya, karena hal itu untuk meningkatkan daya pikir anak agar lebih cerdas.

baca juga: Agar Sayuran Tidak Kehilangan Gizi, Begini Cara Memasaknya

"Salah satu sumber gizi yang penting adalah serealia utuh, karena serealia utuh memiliki kandungan yang banyak serat, vitamin B, karbohidrat dan protein. Di dalam gandum utuh," pungkasnya.

Editor: Eko Fajri