Bicara Pelan Bisa Turunkan Risiko Penularan Virus Corona

Ilustrasi
Ilustrasi (Ist)

KLIKPOSITIF - Virus corona COVID-19 sempat dikatakan bisa menyebar ketika berbicara. Tapi, sebuah penelitian menemukan berbicara lebih pelan bisa mengurangi penularan virus corona COVID-19 secara drastis.

Peneliti mengklaim, mengurangi 6 desibel suara bisa memberikan efek yang sama pada pemotongan transmisi virus corona COVID-19 daripada menggandakan ventilasi ruangan.

baca juga: Terus Melonjak, Angka Positif Corona di Indonesia Sudah 385.980 Kasus

"Hasilnya menunjukkan otoritas kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan penerapan zona tenang di lingkungan dalam ruangan yang berisiko tinggi, seperti ruang tunggu rumah sakit atau fasilitas makan," ujar peneliti dari University of California dikutip dari The Sun.

Pada Juli 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengubah panduannya yang mengakui adanya kemungkinan penularan aerosol, seperti selama latihan paduan suara atau ketika berada di restoran yang bising.

baca juga: Inggris Uji Coba Tes Air Liur Untuk Deteksi Virus COVID-19

Tetesan mikroskopis yang dikeluarkan ketika berbicara cepat menguap meninggalkan partikel aerosol cukup besar yang membawa virus. Peningkatan kenyaringan suara sekitar 35 desibel atau berbicara dengan teriak bisa meningkatkan laju emisi partikel virus sebesar 50 kali lipat.

Orang yang berbicara dengan nada normal biasanya mencapai kisaran 10 desibel. Sedangkan, suara yang bising di restoran biasanya mencapai kisaran 70 desibel. "Tidak semua lingkungan dalam ruangan sama dalam hal risiko penularan virus melalui aerosol," jelas ketua peneliti William Ristenpart.

baca juga: Rencana Vaksinasi COVID-19 pada Minggu kedua November Terancam Molor

Menurut William, ruang kelas yang ramai tapi sepi jauh lebih tidak berbahaya daripada bar karaoke yang tidak ramai. Karena, biasanya orang karaoke bernyanyi dan berbicara dengan keras.

Para peneliti pun telah melihat jumlah aerosol dan tetesan yang dihasilkan oleh beberapa orang dengan volume suara berbeda. Cara ini memungkinkan para peneliti menganalisis aerosol yang dihasilkan oleh suara tertentu. Mereka menemukan bahwa volume suara memegang pengaruh terbesar pada jumlah aerosol yang dihasilkan.

baca juga: Kadis Kesehatan Pemko Pariaman Positif COVID-19

Nyanyian atau teriakan pada tingkat yang paling keras bisa menghasilkan aerosol 30 kali lebih banyak. Karena itu, peneliti menyarankan semua orang untuk berbicara lebih pelan atau lirih.

Editor: Fitria Marlina