Ternyata Ini Arti Kempot dalam Nama Didi Kempot

Didi kempot
Didi kempot (Net)

KLIKPOSITIF - Penyanyi kondang Didi Kempot meninggal dunia di usia 53 tahun. Ia diduga terkena serangan jantung akibat terlalu banyak aktivitas.

Semasa hidupnya, Didi Kempot dikenal sebagai maestro lagu-lagu campursari. Karya-karyanya tak lekang oleh zaman, didengarkan mulai dari orang tua hingga anak-anak muda.

baca juga: Akan Rayakan 30 Tahun Berkarier di Dunia Musik, Ahmad Dhani : Tunggu Aja Kejutan-kejutan dari Dewa 19

Setiap karya Didi membekas di hati para penggemar. Ia bahkan dijuluki 'The Godfather of Broken Heart' karena lagu-lagu yang ia ciptakan sarat dengan patah hati.

Namun, perjalanan karier Didi Kempot tak diperoleh secara instan. Sebelum terkenal seperti sekarang, pemilik nama lengkap Dionisius Prasetyo itu memulai karier bermusik dari nol.

baca juga: Perdagangan Saham Garuda di Bursa Efek Dihentikan

Kisah tersebut ternyata diabadikan dalam namanya. Nama Kempot yang tersemat dalam nama panggungnya adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar, sebuah grup musik yang jadi pijakan berkarir Didi dalam bermusik.

"Sebelum saya masuk ke dunia rekaman, saya sempat jadi penyanyi jalanan alias Kempot, Kelompok Penyanyi Trotoar," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/3/2020) seperti dikutip dari Antara.

baca juga: Pertamina Siap Operasikan 12 Storage BBM Baru

Tak disangka, nama tersebut justru mengantarkan sosok Didi Kempot sebagai maestro tembang-tembang campursari.

Sampai saat ini, ia telah melahirkan puluhan album yang melekat di telinga pecinta musik tanah air. Ia bahkan telah menulis lebih dari 700 judul lagu selama perjalanan kariernya.

baca juga: Junimart Girsang: Penyelesaian Konflik Tanah Harus Perhitungkan Aspek Hukum dan Non Hukum

Beberapa tahun belakangan, lagu-lagunya yang kerap memakai bahasa Jawa bahkan didengarkan oleh anak-anak muda di seluruh penjuru tanah air. Akibatnya, para penggemar Didi Kempot akhirnya punya sebutan baru yaitu Sobat Ambyar.

Didi Kempot juga kerap menggunakan nama-nama tempat di dalam lagu-lagunya, di antaranya adalah Parangtritis, Stasiun Balapan, Terminat Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji, hingga Ademe Kutho Malang.

Editor: Eko Fajri