RS Unand Komitmen Cegah Penularan HIV AIDS di Lingkungan Kampus Hijau

Penandatanganan komitmen bersama cegah penularan HIV AIDS
Penandatanganan komitmen bersama cegah penularan HIV AIDS (KLIKPOSITIF/Khadijah)

PADANG, KLIKPOSITIF - Rumah Sakit (RS) Universitas Andalas ( Unand ) berkomitmen untuk cegah terjadinya penularan HIV AIDS di lingkungan kampus "Hijau" tersebut.

"Penyakit HIV AIDS dianggap sebagai penyakit berbahaya yang diwaspadai mengancam anak muda maupun orang dewasa di usia produktif. Oleh karena itu, kita tidak ingin civitas akademika di Unand sampai terkena," ujar Direktur Utama RS Unand Dr. dr. Yevri Zulfiqar, Sp.B, Sp. U. saat memberikan sambutan pada Talkshow dalam rangka menyambut Hari AIDS Sedunia dengan tema Cegah HIV AIDS dengan Kendalikan Faktor Resikonya, di Lantai I RS Unand , Sabtu (30/11).

baca juga: Dies Natalis Unand ke 64, Rektor: Mari Lanjutkan Pengembangan Unand

Talkshow yang diramaikan dengan ratusan mahasiswa itu menghadirkan mantan Rektor Unand yakni Prof. Werry Darta Taifur, SE, MA sebagai Keynote Speaker. Selain itu, turut hadir Rektor Unand , Dr. Yuliandri, SH, MH yang baru dilantik pada 25 November lalu dan beberapa tenaga ahli dari Dinas Kesehatan Sumbar.

Yevri mengharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, remaja dapat mengetahui bahayanya penyakit HIV AIDS dan penyebarannya melalui cara apa saja. Selain itu, ia mengimbau jika ada yang telah terkena penyakit tersebut, tidak perlu merasa takut atau malu untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.

baca juga: Ini Tanggapan Pakar Politik Unand Tentang Pernyataan Puan Maharani

"Di RS Unand juga dapat dilakukan pengecekan untuk penderita HIV AIDS . Privasinya penderita dijamin aman dan kita akan bantu untuk mengobatinya semampu kita," katanya.

Dijelaskannya, RS Unand sebelumnya pernah menangani terhadap penderita penyakit tersebut. RS Unand juga bekerja sama dengan Tenaga ahli di rumah sakit lain seperti RSUP M. Jamil.

baca juga: 9 Mahasiswa Penerima Beasiswa Asal Myanmar Mulai Pendidikan di Universitas Andalas

Sementara itu, Prof. Werry Darta Taifur, SE, MA secara umum menyampaikan bahwa salah satu solusi agar masyarakat terhindar dari Penyakit Masyarakat (PEKAT) yakni dengan kembali pada filsafat Minangkabau yang selama ini telah banyak dilupakan banyak orang yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Makna dari ABS-SBK yakni adat berdasarkan agama, agama berdasarkan kitab Allah.

Menurutnya, dengan kembali memegang filsafat itu dengan teguh, masyarakat akan kembali ke jalan yang benar. Pemegang filsafat itu akan berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama, yang masuk juga di dalamnya kategori pekat seperti Narkoba, miras, LGBT, gonta ganti pasangan dan lainnya.

baca juga: Kasus COVID-19 Kembali Meningkat di Sumbar, Kepala Laboratorium Unand Ingatkan Hal Ini

"Kita bisa melindungi keluarga kita dari penyebab HIV AIDS dengan kembali menekankan pentingnya ABS-SBK ini satu sama lain," ujar WDT yang saat ini menjabat sebagai Komisaris PT Semen Padang.

Selain itu, ia menjelaskan dampak HIV AIDS tidak hanya berpengaruh pada kesehatan tubuh penderitanya, namun juga menurunkan ekonomi keluarga. Penderita HIV AIDS harus tentunya harus selalu berobat ke rumah sakit dan bianya berobat tersebut terkadang lebih besar dari pendapatan di rumah itu, sehingga beresiko membuat anggota keluarga meminjam kesana kemari jika sudah tak ada uangnya lagi.

Tidak hanya menurunkan ekonomi keluarga, ekonomi daerah juga dapat terdampak jika masyarakatnya banyak yang terkena HIV AIDS karena akan menyebabkan wisatawan takut berkunjung ke daerah tersebut. Jika kunjungan wisatawan menurun, maka PAD juga akan menurun sehingga mengurangi laju pembangunan daerah.

Di sisi lain, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumbar Linarni Jamil mengatakan dinas terkait memiliki program mulai dari promotif, preventif, kurativ dan rehabilitatif. Kegiatan dari program itu seperti dilakukannya pemeriksaan pada setiap polulasi kunci dan populasi umum.

"Populasi kunci itu seperti pelaku LGBT, PSK dan pengguna jarum suntik. Mereka diimbau untuk memeriksakan diri ke Faskes yang ada guna mengetahui apakah mereka sudah tertular penyakit HIV AIDS . Sementara untuk populasi umum ditujukan pada setiap ibu hamil dan penderita TBC yang diminta untuk memeriksakan dirinya juga apakah berpotensi terkena penyakit HIV AIDS ," ujarnya.

Sementara itu, untuk potensi penyebaran HIV AIDS jika dirujuk pada 3 tahun lalu, jumlah penderitanya cendrung meningkat. Namun jika dilihat secara mendalam, tidak semua dari populasi khusus yang datang ke faskes untuk memeriksakan diri mereka.

"Mungkin disebabkan rasa takut atau malu sehingga mereka tidak mau memeriksanya," katanya lagi.

Ia mengharapkan agar masyarakat menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan HIV AIDS . Karena jika sudah terkena akan susah untuk diobati. Namun jika sudah tertular, jangan takut atau malu untuk datang ke faskes untuk memeriksakan diri dan mengobatinya.(*)

Penulis: Khadijah