Penderita Insomnia Berpotensi Lebih Besar Alami Penyakit Ini

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF -Masalah gangguang tidur bisa berdampak buruk bagi tubuh dan jiwa. Sebuah penelitian baru menyebutkan orang insomnia berisiko lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke. Hasil didapat setelah mengamati hampir 500.000 orang.

Dilansir dari Dailymail penelitian yang dilakukan para peneliti Cina yang mengaitkan insomnia dan kondisi kesehatan yang memburuk. Imsomnia yang dialami oleh satu dari tiga orang dewasa ini dipercaya bisa mengubah fungsi tubuh. Para ahli ini juga percaya bahwa kurang tidur bisa meningkatkan tekanan darah dan mengubah metabolisme tubuh, dan kedua faktor inilah yang pada akhirnya berisiko memunculkan penyakit jantung.

baca juga: Riset Baru Ungkap Terserang Flu Biasa Bisa Latih Tubuh Hadapi Covid-19

Selama satu dekade lamanya peneliti Cina mengikuti 480.000 orang, dengan rata-rata usia 51 tahun dan tidak punya riwayat penyakit jantung. Kemudian para relawan ini ditanya apakah mereka memikili 1 dari 3 gejala insomnia dalam periode satu minggu, seperti sulit tidur, bangun lebih awal, dan sulit fokus di siang hari.

baca juga: Bagi Penderita Insomnia, Lakukan 3 Trik Ini Agar Anda Dapat Tidur Nyenyak

baca juga: Dada Nyeri Tak Selalu Masalah Jantung, Perhatikan Penyebab Lainnya

Selain itu, peneliti juga melakukan penyesuaian faktor-faktor risiko stroke dan penyakit jantung lainnya, seperti konsumsi alkohol, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Lalu ditemukan penderita dengan tiga gejala insomnia sekaligus, berisiko 18 persen terserang stroke dan jantung.

Sementara mereka yang mengaku bangun lebih awal dan tidak bisa kembali tidur berisiko 7 persen. Dan mereka yang sulit fokus di siang hari, memiliki risiko 13 persen.

baca juga: Bahagia Bisa Dicapai dengan Mengatur Ritme Tidur

"Hasil ini menunjukkan bahwa jika kita bisa menargetkan orang yang mengalami kesulitan tidur dengan terapi perilaku, ada kemungkinan bahwa kita bisa mengurangi jumlah kasus stroke, serangan jantung dan penyakit lainnya," ungkap peneliti Dr. Liming Li, dari Universitas Beijing.

Penulis: Ramadhani