Mudah Lupa Apakah Termasuk Pikun? Yuk Kenali Ciri yang Harus Diwaspadai

ilustrasi pelupa
ilustrasi pelupa (net)

KLIKPOSITIF -- Seiring bertambahnya usia, berbagai perubahan akan terjadi dalam tubuh seseorang. Termasuk pada bagian otak. Hal ini menyebabkan beberapa masalah pada diri seseorang, salah satunya pikun.

Pikun adalah kondisi dimana seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Lebih lanjut, diterangkan jika pikun sendiri sebenarnya terbagi dua, yakni pikun yang masih terbilang normal, yang pada akhirnya akan mengingat sendiri sesuatu yang dilupakan, serta pikun akibat dari gangguan fungsi kognitif ringan.

baca juga: Surat Edaran Wali Kota Terkait Perayaan HUT RI Direvisi, Masyarakat Padang Boleh Adakan Lomba

"Dalam fungsi kognitif itu ada daya ingat atau memori. Kalau sudah kena gangguan kognitif ringan, seseorang tidak bisa mengingat sendiri, butuh bantuan orang lain. Kalau sudah masuk dalam tahap itu, mesti hati-hati, karena 2-3 tahun kemudian bisa kena demensia," jelas dr. Poppy, ahli saraf di Jakarta.

Saat seseorang mengalami gangguan ingatan karena demensia, kata dr. Poppy, biasanya mereka akan mengalami lebih dari satu gangguan kognitif ringan lainnya disamping hilangnya memori. Gangguan fungsi kognitif tersebut, antara lain, ialah fungsi atensi atau perhatian dan konsentrasinya.

baca juga: Lagi, Empat Warga Tanah Datar Terkonfirmasi Positif COVID-19 Cluster Puskemas I Limo Kaum

Selain itu, ada fungsi orientasi atau tempat. Di mana mereka biasanya akan sulit mengenal tempat yang mereka kunjungi dan mudah tersesat untuk kembali ke tempat awal. Mereka yang memiliki gangguan fungsi orientasi ini juga biasanya tidak ingat jam dan hari.

"Selain itu ada fungsi bahasa, kita bisa komunikasi dengan orang lain, perlu bahasa. Kalau ada gangguan bahasa perlu diperhatikan," jelasnya lagi.

baca juga: Jelang HUT Kemerdekaan RI ke-75, Positif Corona Tembus 2.345 Kasus

Terakhir adalah fungsi kalkulasi atau menghitung. Biasanya kata dr. Poppy, orang demensia juga sulit menghitung, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena mereka tidak bisa berbelanja, menghitung kembalian dan lain sebagainya.

Jadi, lanjut dia, seseorang dapat dikatakan menderita demensia, saat mereka memiliki gangguan ingatan ditambah dengan dua gangguan fungsi kognitif ringan, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Sementara, untuk mengklasifikasi jenis demensia yang diderita oleh seseorang harus memerlukan tes tambahan.

baca juga: Satu Warga di Pessel Kembali Terkonfirmasi Positif COVID, Kali Ini dari Tarusan

Apakah demensia tersebut termasuk demensia vaskular, Alzheimer dan lainnya. Karena, dia menekankan, demensia bukan berarti Alzheimer, dan Alzheimer sudah pasti demensia. Kalau demensia itu payungnya, penyakit lupa karena gangguan fungsi kognitif tadi.

"Dari demensia sendiri ada beberapa tipe, salah satunya Alzheimer, yang merupakan adanya kelainan karena perubahan protein di dalam otak. Alzheimer makin lama akan semakin berat dan bisa disebabkan karena genetik," jelasnya.

Sedangkan, demensia vaskular biasanya didahului dengan adanya gangguan di pembuluh darah otak dan memiliki faktor pencetus, yakni tekanan darah tinggi, tingkat kolesterol yang tinggi dan kencing manis.

"Sebelumnya biasanya stroke dulu. Jadi bagi yang punya faktor risiko stroke hati-hati karena bisa mengalami demensia vaskular," tutupnya. (*)

sumber: Suara.com

Penulis: Agusmanto