Kenapa Ketupat Jadi Menu Khas Saat Lebaran? Ini Lima Alasannya

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Lebaran atau Idul Fitri 1440 Hijriah identik dengan tradisi saling memaafkan.

Selain itu, Idul Fitri juga seakan tak lengkap jika tidak makan ketupat.

baca juga: Pastikan Penegakan Hukum Tidak Pandang Bulu, LPSK Desak Presiden Turun Tangan di Kasus Djoko Tjandra

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa ketupat menjadi menu khas saat lebaran atau Idul Fitri ?

Daripada penasaran, langsung aja yuk cekidot alasan kenapa ketupat jadi menu khas saat lebaran .

baca juga: Pilkada di Tengah Pandemi COVID-19, Dampaknya pada Partisipasi Pemilih

Ketupat hidangan khas Asia Tenggara

Tak hanya di Indonesia, ketupat juga ternyata sudah cukup lama hadir di beberapa negara di Asia Tenggara, sebut saja Singapura, Filipina, dan Malaysia.

baca juga: Rachmat Gobel Usulkan Transportasi Berbasis Rel Harus jadi Agenda Prioritas Pemerintah

Ketupat di Filipina berbentuk segitiga dan disebut bugnoy

Nama dan bentuknya memang beda dari ketupat di Indonesia, namun selebihnya nyaris mirip banget dengan ketupat Indonesia.

baca juga: Terkait Pilkada, Haedar Nashir: Konsekuensinya Tanggungjawab Pemerintah

Ketupat sudah menemani rakyat Indonesia sejak zaman Hindu-Buddha

Salah satu buktinya adalah hidangan bernama Tipat yang kerap dilibatkan dalam ritual ibadah di Bali.

Ketupat menjadi hidangan khas beberapa daerah di Indonesia

Sebut saja ada kupat tahu di Jawa Barat. Grabag di magelang. Katupat kandangan di Banjar. Lalu ada juga kupat glabet di Tegal.

Menjadi makanan khas lebaran atau Idul Fitri sejak zaman Sunan Kalijaga

Disebutkan bahwa akronim dari ketupat (kupat dalam bahasa Jawa) adalah ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Hal tersebut tentu sangat tepat untuk dijadikan sebagai semacam simbol saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan. (*)

Sumber: guideku.com

Penulis: Eko Fajri