Pengaruh Kekebalan Ibu Terhadap Otak Bayi

Seorang wanita hamil disarankan beristirahat dan diet gizi yang seimbang untuk menjaga kesehatan bayi.
Seorang wanita hamil disarankan beristirahat dan diet gizi yang seimbang untuk menjaga kesehatan bayi. (Pixabay)

KLIKPOSITIF  - Kesehatan ibu memiliki dampak keseluruhan pada kesehatan dan kesejahteraan bayi yang berkembang di kandungan. Studi yang dilakukan menunjukkan hubungan yang mendalam antara sistem kekebalan ibu hamil dan perkembangan otak bayi.

Dilansir dari laman Boldsky, seorang ibu hamil disarankan bebas stres dan bahagia saat hamil. Seorang wanita hamil disarankan beristirahat dan diet gizi yang seimbang untuk menjaga kesehatan bayi.

baca juga: Wajib Tahu, Ini Hubungan Pola Asuh dan Kecanduan Internet pada Anak

Kesehatan yang tidak memadai saat hamil dapat menyebabkan beberapa komplikasi pada bayi di masa perkembangan anak. Misalnya, tingkat stres yang tinggi selama kehamilan dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan masa kanak-kanak bayi dan perkembangan otak bayi.

Otak seorang bayi dikatakan melipatgandakan ukurannya antara minggu ke-35 dan ke-39. Beberapa minggu terakhir kehamilan sangat penting dari perspektif perkembangan otak bayi. Tahap akhir kehamilan adalah ketika koneksi dan jalur otak bayi terbentuk. Ini penting untuk kemampuan belajar yang lancar begitu bayi lahir.

baca juga: Bisa Dimulai Sejak Usia 8 Bulan, Ini Olahraga yang Cocok Buat Anak

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience menyoroti fakta di balik bagaimana kesehatan seorang ibu, khususnya sistem kekebalan tubuh, memiliki efek pada kesehatan dan perkembangan otak bayi.

Keadaan ibu sangat bertanggung jawab untuk gangguan kejiwaan di tahun-tahun berikutnya kehidupan anak. Penelitian ini melibatkan pemahaman remaja hamil dan koneksi yang sistem kekebalan mereka miliki pada anak. Dua protein dilepaskan selama trimester terakhir oleh sistem kekebalan ibu. Ini dikatakan berdampak perkembangan otak bayi dalam hal memiliki gangguan seperti hiperaktif, autisme dan skizofrenia. Tingkat protein yang tinggi menunjukkan bahwa bayi akan menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih baik pada tahap kehidupan selanjutnya.

baca juga: Ingin Tingkatkan Peluang Hamil? Pakar Sebut Tidur Sebagai Kunci

Aktivasi sistem kekebalan ibu dikaitkan dengan denyut jantung janin yang rendah di akhir semester. Ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam pengembangan sistem saraf otonom. Perubahan denyut jantung menjadi indikasi bahwa peradangan ibu mulai berlaku sebelum kelahiran anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa minggu terakhir kehamilan memiliki dampak dan pengaruh yang kuat pada perkembangan otak anak.

Temuan penelitian ini menguraikan secara rinci bagaimana sistem kekebalan yang diaktivasi ibu hamil mempengaruhi perkembangan bayi. Stres, penyakit, infeksi, alergi, dll, bisa bertindak sebagai pemicu, dan pada gilirannya mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Ketika ini terjadi, respon inflamasi mulai bertindak mengarah pada pelepasan protein.

baca juga: Tak Segampang Putus, Simak Delapan Pertanyaan Ini sebelum Menyesal Ajukan Gugatan Cerai

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dampaknya terhadap bayi yang lahir hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak. Penelitian ini dilakukan setelah beberapa minggu pertama kelahiran dimana scan otak diambil pada bayi.

Scan ini mengungkapkan bahwa jika ibu memiliki protein tinggi selama tahap akhir kehamilan yang menandakan peradangan, maka ada gangguan komunikasi antara berbagai bagian otak bayi yang baru lahir. Tes kembali dilakukan ketika anak berusia 14 bulan. Hasil tes menunjukkan perbedaan dalam hal perilaku, perkembangan bahasa dan keterampilan motorik untuk anak-anak yang lahir dari ibu yang telah mengaktifkan sistem kekebalan karena peradangan.

Penulis: Fitria Marlina