BKKBN Sumbar: Bahaya Laten Kesehatan Reproduksi Dapat Berdampak pada Bonus Demografi

Peserta Sosialisasi Program Generasi Remaja (GenRe) Saka Kencana Melalui Gugus Depan Pramuka Provinsi Sumbar di Aula MAN 2 Padang pada Sabtu (24/11)
Peserta Sosialisasi Program Generasi Remaja (GenRe) Saka Kencana Melalui Gugus Depan Pramuka Provinsi Sumbar di Aula MAN 2 Padang pada Sabtu (24/11) (KLIKPOSITIF)

PADANG, KLIKPOSITIF - Badan Kependudukan dan Kepegawaian Nasional ( BKKBN ) Sumatera Barat (Sumbar) mengadakan kegiatan Sosialisasi Program Generasi Remaja (GenRe) Saka Kencana Melalui Gugus Depan Pramuka Provinsi Sumbar di Aula MAN 2 Padang pada Sabtu (24/11). Kegiatan itu diikuti oleh ratusan siswa pramuka yang berasal dari SMP/MTs dan SMA/MA se-Sumbar yang termasuk dalam kelompok gugus depan pramuka di sekolah masing-masing.

Kegiatan itu bertujuan untuk pembekalan ilmu tentang kesehatan reproduksi kepada pelajar di tingkat sekolah menengah, sehingga diharapakan dapat membuat mereka menghindari diri mereka dari penyakit yang diakibatkan oleh kesehatan reproduksi. Pada kesempatan itu, hadir Kepala Perwakilan BKKBN Wilayah Sumbar, Syafruddin, Sekretaris Utama BKKBN Kota Padang Nofrizal, Kepala Sekolah MAN 2 Padang, serta peserta sosialisasi tersebut dari berbagai sekolah yang didampingi kehadirannya oleh guru pendamping.

baca juga: Wali Kota Riza Falepi Imbau Warga Sukseskan Pendataan Keluarga 2021

"Saya merasa sangat senang karena bisa hadir di MAN 2 Padang ini dalam rangka sosialisasi tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Pembekalan tentang kesehatan reproduksi untuk para remaja ini adalah hal yang penting, karena di zaman sekarang ini sudah banyak kejadian yang mengancam kesehatan reproduksi mereka diakibatkan kurangnya pemahaman mereka terhadap hal tersebut," ujar Kepala Perwakilan BKKBN Wilayah Sumbar Syafruddin di hadapan para peserta sosialisasi.

Ia mengungkapkan, dipilihhnya pelajar yang aktif dalam kegiatan pramuka adalah karena diyakini para pelajar ini nantinya dapat menyebarkan informasi dan pengetahuan yang mereka dapatkan setelah mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut.

baca juga: Presiden: BKKBN Pegang Kendali dalam Pencegahan Stunting

"Seorang anggota pramuka pastilah seorang yang lebih aktif, pintar dan berwawasan tinggi. Jadi ketika mereka diberi pemahaman tentang kesehatan reproduksi, maka diharapkan mereka dapat menyebarluaskan tentang hal itu pada teman-teman mereka lainnya, baik anggota pramuka lainnya maupun yang tidak anggota pramuka," tutur Syafruddin.

Di sisi lain, Sekretaris Utama BKKBN Kota Padang Nofrizal pada kesempatan itu juga menyampaikan tentang betapa pentingnya ilmu yang akan mereka dapatkan, yakni ilmu dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Ia juga menyampaikan adanya kaitan antara kesehatan reproduksi dengan bonus demografi yang akan dialami oleh penduduk Indonesia.

baca juga: Mengintip Rahasia "ZIWBK" Perwakilan BKKBN Sumbar 2020

"Indonesia pada tahun 2025 hingga 2030 akan mengalami bonus demografi yang hanya terjadi satu kali saja. Bonus demografi ini maksudnya adalah tingginya angka penduduk dengan usia produktif dibandingkan dengan usia non produkfif. Mereka yang berusia produktif berada pada usia 16 tahun - 64 tahun," jelas Nofrizal.

Ia mengungkapkan, bonus demografi ini dapat menjadi nilai positif dan menguntungkan apabila mampu dikelola secara profesional, karena SDM adalah salah satu faktor penting dalam menciptakan kemajuan terutama di sebuah negara.

baca juga: Perkembangan KB di Sumbar Lima Besar Nasional

"Adanya bonus demografi ini tentunya memiliki kaitan yang erat dengan kesehatan reproduksi remaja. Coba bayangkan, bagaimana jadinya bila pada saat Bonus Demografi tersebut, SDM-nya malah berisi penduduk di usia produktif dengan kondisi kesehatan reproduksi yang tidak baik," ungkap Nofrizal.

Oleh karena itu, lanjutnya, para pelajar harus diberi pemahaman sedari dini tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Selain itu, kata Nofrizal, ada bahaya aten yang

"Ada bahaya laten kesehatan reproduksi yang mana gejalanya tidak telihat di permukaan namun dampaknya sangat luar biasa pada saat terjadinya Bonus Demograsi," tuturnya.

Dijelaskannya, ada 3 hal yang dapat menyebabkan timbulnya bencana pada saat bonus demografi, yakni pernikahan di bawah 16 tahun, perilaku penyimpangan seksual seperti LGBT dan penggunaan NAPZA. Hal tersebut diyakini dapat merusak kesehatan reproduksi penduduk Indonesia yang nantinya akan membahayakan masyakarakat.

Untuk menghindari hal tersebut, jelasnya, makanya perlu dilakukan sosialisasi kepada para pelajar agar jangan sampai terjatuh ke dalam bahaya laten kesehatan reproduksi tersebut.

"Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan meningkatkan kemampuan diri sendiri sehingga berpotensi untuk membuat kita bisa melakukan hal-hal yang bernilai positif baik pada diri sendiri maupun pada lingkungan," katanya.

Menurutnya, para pelajar harus menguasai minimal beberapa skill yang berguna. Penguasaan yang harus dimiliki itu salah satunya yakni hard skill, soft skill, enterpreneur skill atau social skill.

"Kuasai salah satu dari sekian banyak skill itu untuk menghindari masyarakat kita terkena bahaya laten kesehatan reproduksi," tutur Nofrizal.(*)

Penulis: Khadijah