Detak Jantung yang Tak Teratur Bisa Sebabkan Lupa Ingatan

ilustrasi serangan jantung
ilustrasi serangan jantung (net)

KLIKPOSITIF -- Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa detak jantung yang tidak teratur dapat meningkatkan risiko seseorang terkena demensia. Studi ini menunjukkan mereka dengan jenis detak jantung yang tidak teratur yang disebut fibrilasi atrium berisiko mengalami penurunan kemampuan berpikir dan ingatan yang lebih cepat.

Tidak hanya itu, mereka juga berisiko mengalami demensia daripada mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut. Fibrilasi atrium merupakan irama normal yang tidak sinkron. Akibatnya darah berlebih berada di dalam hati yang bisa membentuk gumpalan dan masuk ke otak.

baca juga: Riset Ungkap Sarapan Susu Turunkan Kadar Gula Darah

Kondisi ini bisa menyebabkan stroke. Sementara itu, denyut jantung normal harus teratur dan berkisar antara 60 sampai 100 denyut per menit ketika seseorang sedang beristirahat.

Kabar baik dari penelitian ini adalah mereka dengan kondisi fibrilasi atrial yang menggunakan antikoagulan atau pengencer darah untuk menjaga agar darah mereka tidak membeku sebenarnya kurang mungkin mengembangkan demensia.

baca juga: Waspada, Mendengkur Bisa Indikasikan Resiko Serangan Jantung

Penulis studi Dr Chengxuan Qiu, dari Institut Karolinska dan Universitas Stockholm di Swedia, mengatakan aliran darah yang disebabkan oleh fibrilasi atrium dapat memengaruhi otak dalam beberapa cara. Untuk penelitian ini, peneliti mengamati 2.685 peserta dengan usia rata-rata 73 tahun. Semua peserta diwawancarai.

Hasil menunjukkan semua peserta bebas dari demensia pada awal penelitian, tetapi 243 orang (sembilan persen) mengalami fibrilasi atrium. Selama penelitian, tambahan 279 orang (11 persen) mengembangkan fibrilasi atrium dan 399 (15 persen) mengembangkan demensia.

baca juga: WHO Prediksi Kematian Akibat Covid-19 Bisa Mencapai 2 Juta

Para peneliti menemukan mereka yang memiliki fibrilasi atrium memiliki tingkat penurunan kemampuan berpikir dan ingatan yang lebih cepat daripada mereka yang tidak memiliki kondisi ini dan 40 persen lebih mungkin untuk mengembangkan demensia.

Para peneliti juga menemukan mereka yang mengambil pengencer darah untuk fibrilasi atrium mengalami penurunan risiko demensia sebanyak 60 persen. Sebagai informasi, kondisi fibrilasi atrium ini dapat menyebabkan masalah misalnya pusing, sesak nafas dan kelelahan. (*)

baca juga: Temukan Antibodi Potensial, Ilmuwan Jerman Kembangkan Vaksin COVID-19 Pasif

sumber: HiTekno

Penulis: Agusmanto