Ilmuwan: Kesulitan Membedakan Bau Bisa Menjadi Gejala Penyakit Alzheimer

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF  - Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neurology mengungkapkan, bahwa orang yang tidak dapat membedakan antara dua bau yang berbeda, seperti lemon dan bensin berisiko tinggi terkena penyakit Alzheimer .

"Kerusakan pada otak yang berkaitan dengan  Alzheimer bisa tampak 20 tahun sebelum gejala mulai muncul," kata salah seorang periset dari McGill University, John Breitner.

baca juga: Presiden Bagi-Bagi Nasi, Refly Harun: Saya Bisa Katakan Ini Kerumunan, Tapi.....

Para ilmuwan sekarang percaya, bahwa tes untuk identifikasi bau yang sederhana dapat membantu melacak perkembangan penyakit ini, sebelum gejala beratnya benar-benar muncul, terutama di antara mereka yang berisiko.

"Meskipun penelitian telah lama dilakukan para ahli di Kanada, namun kami belum bisa menemukan pengobatan yang efektif untuk Alzheirmer. Tetapi, kita dapat menunda timbulnya gejala penyakit ini dalam waktu lima tahun," ungkap McGill.

baca juga: Ternyata Banyak Manfaat Berjalan Tanpa Alas Kaki di Atas Rumput, Simak Ulasannya

Ia menjelaskan, penelitian itu diharapkan dapat mengurangi prevalensi dan tingkat keparahan gejala ini lebih hingga 50 persen, "katanya.

Riset  itu, dilakukan pada 300 orang dengan usia rata-rata 63 tahun, yang beresiko terkena Alzheimer dan orang usia tua yang menderita penyakit ini. Dengan mengambil beberapa tes penciuman bau untuk mengidentifikasi aroma yang bervariasi, seperti gelembung, permen karet, bensin atau bau lemon. Seratus diantara mereka juga secara sukarela dilakukan tusukan lumbal biasa untuk mengukur jumlah protein AD terkait pada cairan serebrospinal (CSF) mereka.

baca juga: Viral Pembagian Nasi Kotak dari Presiden, Beragam Komen Netizen Bermunculan

Hasilnya, periset menemukan, bahwa peserta dengan kesulitan paling besar dalam mengidentifikasi bau adalah mereka yang memiliki resiko terbesar secara biologis terkena  Alzheimer  paling besar.

"Ini adalah pertama kalinya periset dapat menunjukkan bahwa hilangnya kemampuan untuk mengidentifikasi bau berhubungan dengan penanda biologis yang menunjukkan kemajuan penyakit ini," kata Marie-Elyse Lafaille-Magnan, mahasiswa PhD di McGill University.

baca juga: DPR Minta Menkes Buat Instrumen Penanganan Covid-19 yang Efektif

"Selama lebih dari 30 tahun, para ilmuwan telah mengeksplorasi hubungan antara kehilangan memori dengan kesulitan yang dimiliki pasien dalam mengidentifikasi bau yang berbeda," katanya.

"Hal ini masuk akal karena diketahui bahwa bola olfaktori (yang ada pada indera penciuman) dan korteks entorhinal (berhubungan dengan memori dan penamaan bau) adalah salah satu struktur otak pertama yang pertama terkena penyakit ini," tambahnya. .

Sumber: www.Boldsky.com

Penulis: Khadijah