Agar Laut Bersih dari Kotoran Manusia

Sesudut pemandangan di Pasir Jambak.
Sesudut pemandangan di Pasir Jambak. (KLIKPOSITIF)

KLIKPOSITIF -- Jika datang ke kawasan wisata Pasir Jambak—sekira 15 menit dari Kota Padang—sore hari, Anda akan bertemu dengan rindangnya pohon pinus , sepoinya angin, sembari menunggu matahari terbenam. Banyak orang yang menghabiskan sore harinya menikmati keindahan itu di Pasir Jambak.

Namun, Anda akan menemukan pemandangan terbalik bila datang pagi harinya. Ibu-ibu yang memandikan anaknya terlihat dari jauh. Sebab, kamar mandi mereka tak berada di dalam rumah, tapi berada di luar, dengan memanfaatkan air tanah.

Anak-anak yang selesai mandi kemudian masuk ke dalam rumah. Ia keluar dengan mengenakan baju seragam sekolah. Pemandangan lain, di tepi laut, terlihat tiga sampai lima orang sedang berjongkok. Mereka terlihat menutup hidung dan saling membelakangi.

Baca Juga

“Kami Buang Air Besar (BAB) memang di laut. Sebab di rumah tidak ada toilet,” ujar Rahman (40 tahun). Ia mengatakan BAB di laut lebih aman karena kotorannya akan langsung di makan ikan. Menurutnya, masyarakat di sana—pekerjaannya rata-rata nelayan—sudah turun temurun buang air besar di laut.

Bila ada kondisi darurat, misalnya BAB tengah malam, mereka tak lagi ke laut. Tetapi di dekat rumah dengan cara menggali tanah bercampur pasir. Setelah selesai BAB, lalu ditimbun kembali. Namun, ada juga yang bandel, mereka tak menimbun kotorannya dengan tanah.“Kadang pagi hari ada-ada saja BAB yang tak tertimbun. Dan itu bau sekali,” ujar Rahman.

BACA JUGA: Akui Angka Stunting Tinggi, Dinkes Sumbar Ajukan Perbaikan SK Gubernur

Pemandangan itu tak hanya dilihat di Pasir Jambak. Di daerah pantai lainnya, di kawasan wisata Pantai Padang, pemandangan serupa juga ditemui. Syuhendri, pendiri lembaga sosial Tanah Ombak yang tinggal di kawasan Purus IV mengatakan, blok tempat tinggalnya, rumah warga tak memiliki toilet.

 “Mereka tak memiliki toilet karena aktivitas BAB-nya dilakukan di laut,” ujarnya. Mereka merasa tak perlu capek-capek membuat toilet sehingga menambah pengeluaran keluarga.

Sumbar masih termasuk kategori banyaknya warga yang BAB sembarangan. Data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)-Smart Sumbar, tercatat 22,27 persen atau 1.198.588 orang BAB sembarangan.

Data tersebut terungkap dalam workhsop orientasi media yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) dan Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) di Padang Agustus lalu.

Wash Advisor SNV Bambang Pujiatmoko mengatakan kategori BAB sembarangan itu dapat dilakukan di mana saja seperti kolam, laut, saluran irigasi, sungai, bahkan di pekarangan rumah kemudian ditimbun.

Penyakit

Masyarakat barangkali tak menyadari efek BAB sembarangan. Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumbar, Firdaus Jamal, mengatakan, banyak sekali penyakit yang ditimbulkan dari BAB sembarangan.

Penyakit seperti diare, kolera, tipus, cacingan, sangat mudah menjangkiti. “Dampak langsungnya adalah terjadinya stunting atau tinggi badan yang tidak normal akibat kekurangan gizi,” ujar Firdaus.

Stunting ini terjadi akibat diare sebelum umur 2 tahun yang menyebabkan usus anak rusak sehingga asupan gizi tidak sempurna. Penyebab diare yang paling dominan adalah sanitasi yang buruk ini.

Dinkes Sumbar mencatat sepanjang 2018, terdapat 6.793 bayi usia di bawah dua tahun (baduta) bergizi buruk. Lalu, sebanyak 15.942 baduta bertubuh pendek (stunting) serta 6.685 bayi berbadan sangat kurus.

Kasus stunting juga terjadi pada anak di bawah lima tahun (balita). Sebanyak 28.898 anak terdata kurang gizi, 59.641 stunting, dan 19.667 berbadan sangat kurus.

“Data status gizi baduta dan balita berdasarkan penimbangan massal tahun 2018. Satu bayi diukur panjang, tinggi, dan berat badannya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday.

Gerakan Warga

Merry Yuliesday mengatakan akan melibatkan banyak pihak untuk mengatasi persoalan tersebut. Melibatkan banyak pihak menurutnya perlu dilakukan karena masalah stunting tak hanya masalah medis, tapi juga kesadaran.

Misalnya, penting mengingatkan masyarakat untuk membuat sanitasi yang baik, tidak BAB sembarangan, dan sebagainya. Edukasi ini dibutuhkan terutama untuk ibu hamil. Pihaknya, sebutnya, akan terus melakukan pemantauan status gizi dengan penimbangan massal setiap Februari, Agustus, dan September. Lalu, pemberian vitamin A dan obat cacing.

Gerakan warga ini memang penting dilakukan. Di kompleks Tanah Ombak, misalnya. Syuhendri membuat gerakan masyarakat sadar akan sanitasi yang baik. Karena persoalan mereka adalah ekonomi, makanya Syuhendri meminta bantuan pihak pemerintah untuk pembangunan toilet warga. “Dan, alhamdulillah disetujui,” ujarnya.

Kini, beberapa rumah di kawasan Tanah Ombak tersebut telah memiliki sanitasi yang baik. Namun, insfrastruktur saja tentu tidak cukup. Karena mereka sudah terbiasa BAB di laut, butuh edukasi terus menerus, baik dari kalangan civil society maupun pemerintah. Sayangnya, gerakan warga tersebut belum terlihat di kawasan Pasir Jambak dan di daerah-daerah lain sehingga angka BAB sembarangan di Sumbar masih tinggi hingga kini.  

[Khadijah/Andika]

Penulis: Pundi F Akbar | Editor: -