Bunda, Yuk Ubah Pola Pikir Soal Susu Kental Manis

PADANG, KLIKPOSITIF - Susu Kental Manis (SKM) tidak bisa dijadikan sebagai pengganti air susu ibu (ASI) bagi bayi dibawah 12 bulan atau untuk bayi dibawah lima tahun (Balita). Hal ini karena kandungan gula yang berlebihan pada SKM mengakibatkan gizi buruk pada anak.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia(YAICI) Arif Hidayat mengatakan ada pola pikir yang tertanam di pikiran Ibu-ibu bahwa Susu Kental Manis (SKM) adalah susu yang harus dikonsumsi setiap hari oleh anggota keluarga.

baca juga: Demi Kesehatan, Batasi Konsumsi Sirop dan Minuman Manis Khas Lebaran

"Ini adalah hal yang menyesatkan dari iklan SKM. Produsen berhasil menanamkan ini dalam pemikiran kita kurang lebih hampir 100 tahun bahwa SKM susu bergizi bagi keluarga sehingga kita dianjurkan minum ini minimal 3 kali sehari. Faktanya kandungan gula sangat tinggi yakni sekitar 50 persen, sedangkan susu atau protein cuma sampai 5 persen sehingga iklan ini menyesatkan, dan ini sudah tertanam dalam pemikiran Ibu-ibu Indonesia," katanya di sela-sela kegiatan edukasi pangan sehat bergizi bersama PP Aisyiyah Sumatera Barat, Selasa, 5 November 2019.

Ia mengatakan dari survei yang dilakukan di Kendari, 97 persen masyarakat menganggap SKM adalah susu. "Sehingga salah satu langkah kita dalam mengubah pemikiran yang tertanam selama ini dengan menginformasikan ke masyarakat bahwa yang kita minum selama ini adalah gula, yang sama dengan sirup beraroma gula atau tidak lebih daridari sirup2 biasa yang beraroma susu," jelasnya.

baca juga: Opor Ayam di Hari Raya, Waspada Kolesterol Naik

Menurutnya, BPOM juga sudah tegas pada 22 Mei 2018 dengan mengeluarkan edaran yang menyatakan bahwa SKM tdak boleh diiklankan dalam bentuk susu dalam gelas. "SKM sebagai toping makanan dan sebagai pecampur minuman namun itu hilang setelah keluarnya Perka pada bulan Oktober 2018 yakni Perka 31 pasal 57 poin w, yakni dengan memvisualisasikan iklan iklan SKM sebagai minuman tidak tunggal dalam arti boleh ditampilkan dalam gelas dengan makanan lainnya. Namun dengan mengubah visualisasi ini, apakah kadar gula dalam SKM akan berkurang? Ini yang jadi pertanyaan selanjutnya," paparnya.

Pihaknya selama ini terus mensosialisasikan soal SKM ke hampir diseluruh wilayah di Indonesia. "Sosialisasi telah kita lakukan di Pulau Jawa, NTB, Lampung, sebagaian Kalimantan, dan Kota Padang, dan kerjasama dengan Aisyiyah adalah yang keenam," jelasnya.

baca juga: Waspada, Berat Badan Meningkat Usai Lebaran

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Merry Yuliesday mengatakan saat ini hal yang perlu dilakukan adalah bersinergi dalam mengedukasi Ibu-ibu. "Kita mulai dengan sinergi yang kuat diantara sesama, misalnya kita memberikan edukasi soal SKM yang tak cocok untuk bayi dan balita. Ini perlu penjelasan yang juga harus diiringi dengan bagaimana gizi yang baikuntuk bayi dan balita. Selain itu, kita juga harus menekankan soal kebiasaan hidup yang ada di keluarga, mislanya merokok didepan anak bukanlah hal yang baik. Contoh-contoh kecil ini yang harus kita tekankan," jelansya.

Menurut Merry selain memahami dengan baik soal gizi yang baik bagi bayi, asyarakat juga harus cerdas dalam melihat dan memahami iklan dari sebuah produk. "Jangan mudah percaya. Lihat dan teliti lagi iklan itu apakah benar-benar memberikan manfaat atau tidak bagi tubuh, makanya iklan menjadi hal yang wajib diketahui dengan baik oleh masyarakat," paparnya.

baca juga: Sering Alami GERD, Ini Obat Herbal untuk Meredakannya

Ia mengakui selama ini dinas kesehatan provinsi telah melakukan sharing session dengan kabupaten/kota yang ada dalam menyelesaikan hal ini.

Sementara itu, Wakil Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Noor Rochmah Pratiknya mengatakan Aisyiyah sudah mulai melakukan edukasi gizi ke masyarakat melalui pengajian dan Taman Kanak-kanak (TK) yang berjumlah kurang lebih 20 ribu se Indonesia. "Dengan jumlah kurang lebih 9600 ranting dengan lima pengajian memberikan edukasi soal gizi yang tidak hanya anak, tapi juga remaja dan ibu hamil. Melalui TK, SD, 27 Stikes Aisyiyah, 76 Stikes Muhammadiyah dan melalui rumah sakit yang dimiliki kita sudah sosialisasikan soal gizi sehat," tuturnya.

Ia berharap dengan sosialisasi ini semakin membuka dan meyakinkan masyarakat soal gizi baik bagi bayi dan anak serta keluarga di rumah. "Sehingga segala sesuatu yang dikonsumsi oleh tubuh kita benar-benar dibutuhakn, bukan yang diinginkan," harapnya.

Kesalahan pola asuh menjadi faktor penyumbang gizi buruk pada anak di beberapa daerah dengan prevalensi stunting yang tinggi. Hal ini erat kaitannya dengan pola pemberian makanan sehari-hari untuk menunjang pertumbuhan balita. Anak akan mempunyai pertumbuhan yang baik meskipun dalam kondisi ekonomi lemah, jika ibu memberikan pola asuh yang baik dalam pemberian makanan sehari-hari.

Provinsi Sumatera Barat, sebagaimana diketahui merupakan salah satu propinsi dengan prevalensi stunting tinggi, yaitu mencapai 30,8%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, sepanjang 2018, terdapat 6.793 bayi usia di bawah dua tahun (baduta) bergizi buruk, 15.942 baduta bertubuh pendek (stunting), 6.685 bayi berbadan sangat kurus. Tidak saja baduta, kondisi memprihatinkan juga terjadi pada anak di bawah lima tahun (balita). Sedikitnya, 28.898 anak terdata kurang gizi.

Sebanyak 59.641 balita stunting, dan 19.667 orang berbadan sangat kurus. Jika ditotalkan, jumlah baduta dan balita mencapai 137.626 orang. Masing-masing, 35.691 orang kurang gizi. Lalu, 75.583 bayi mengidap stunting dan 26.352 bayi berbadan sangat kurus. Disamping kondisi ekonomi, akar dari ketidakseimbangan gizi ini disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kebutuhan gizi keluarga, jenis makanan hingga pengaturan ragam makanan. Karenanya, saat ini Provinsi Sumatera Barat pun gencar melakukan pelatihan dan edukasi gizi, baik untuk tenaga kesehatan maupun langsung ke masyarakat umum. (*)

Penulis: Fitria Marlina