Mengapa Banyak Orang yang Alergi dengan Parfum?

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Parfum sering dijadikan solusi untuk mengatasi masalah bau badan. Selain itu ada sebagian orang yang juga menyebut parfum sebagai penambah rasa percaya diri. Hanya saja, ternyata ada sebagian orang yang mengalami alergi dengan parfum, lho. Apa sebenarnya penyebab dari hal ini?

Penyebab Ada Orang yang Alergi dengan Parfum

baca juga: WHO Hentikan Uji Coba Klorokuin pada Pasien Covid-19

Sebuah penelitian yang dilakukan dr. Anne Steinemann yang berasal dari Melbourne University, Australia menghasilkan fakta tentang ada orang-orang yang cenderung sensitif dengan bahan kimia. Kondisi ini disebut sebagai multiple chemical sensitivity syndrome (MCS). Dr. Steinemann menyebut 1 dari 3 orang dewasa mengalalami masalah sensitif dengan parfum atau produk wewangian akibat dari hal ini.

Mereka yang sensitif dengan parfum dan wewangian lainnya cenderung mengalami gangguan pernapasan dan bisa mengalami nyeri berkepanjangan setelah mencium aromanya. Selain itu, merea juga akan mengalai gejala lain seperti migrain, sakit kepala, bersin-bersin, mata berair, hingga munculnya ruam-ruam pada kulit.

baca juga: Ini Bahan Alami untuk Cegah Masalah Kebotakan

Gejala lain yang bisa muncul akibat alergi pada parfum dan wewangian lainnya adalah munculnya nyeri otot, disorientasi, berubahnya suasana hati, hingga sensasi lelah.

Pakar kesehatan dr. Heather Patisaul dari North Carolina State University menyebut parfum bisa menyebabkan gejala alergi. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan phthalates dan dietil ftalat (DEP) yang bisa memicu dampak ini. Karena alasan inilah jika memang ada orang yang mengalami alergi dengan parfum, sebaiknya kita tidak sembarangan memakai wewangian di depannya.

baca juga: Sulit Hidup Berdamai dengan Corona, Lebih Jahat dari Terorisme

Berbagai Dampak Lain Penggunaan Parfum

Selain menyebabkan migrain, sesak napas, dan gejala alergi lainnya, pakar kesehatan menyebut ada beberapa hal lain yang bisa terjadi jika kita memakai parfum.

baca juga: Tiga Herbal yang Berpotensi Tangkal Corona

Berikut adalah dampak-dampak kesehatan tersebut.

1. Bisa Memicu Gangguan Reproduksi
Caroline Cox dari Center for Environmental Health menyebut kandungan phthalates di dalam parfum bisa saja meningkatkan gangguan reproduksi bagi kaum pria, khususnya jika mereka sering menggunakannya sejak usia remaja. Sementara itu, bagi kaum wanita, kandungan ini bisa memicu masalah sindrom ovarium polikistik yang bisa memicu susah hamil, gangguan pertumbuhan rambut, hingga munculnya jerawat.

2. Bisa Memicu Iritasi Pada Kulit
Pakar kesehatan menyebut sebagian jenis parfum ternyata bisa menyebabkan masalah iritasi pada kulit. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa kandungan layaknya phthalates, methanol, serta asetaldehida. Berbagai kandungan ini bisa menyebabkan reaksi jika terkena sinar matahari. Selain itu, banyak parfum yang memiliki kandungan alkohol dan karbon yang juga bisa menyebabkan reaksi yang sama.

Bagi sebagian orang, berbagai kandungan ini ternyata bisa menyebabkan reaksi layaknya gatal-gatal, iritasi, hingga ruam-ruam pada kulit yang terkena parfum.

3. Bisa Membahayakan Kondisi Bayi
Pakar kesehatan menyarankan setiap orang tua yang baru memiliki bayi untuk lebih cermat dalam menggunakan parfum, khususnya jika mereka berada di dekat buah hatinya. Hal ini disebabkan oleh kandungan phthalates yang bisa menyebabkan dampak buruk bagi perkembangan sang bayi.

4. Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Payudara
Berdasarkan sebuah penelitian yang menggunakan tes urine pada pengguna parfum, disebutkan bahwa kaum hawa yang sering menggunakannya cenderung memiliki kadar MEP yang cukup tinggi. Masalahnya adalah pakar kesehatan menyebut kadar MEP ini memiliki kaitan dengan risiko terkena kanker payudara.

5. Bisa Mempengaruhi Berat Badan
Sebenarnya, pakar kesehatan masih memperdebatkan isu tentang kaitan antara penggunaan parfum dengan masalah berat badan atau risiko diabetes, namun kandungan phtlalates yang ada di dalam parfum disebut-sebut memang bisa memicunya.

Sumber: Doktersehat

Penulis: Eko Fajri