Kemenkes RI Sebut Kental Manis Bukan Susu Bergizi

ilustrasi susu kental manis
ilustrasi susu kental manis (internet)

KLIKPOSITIF -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menginstruksikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku pengawas izin edar untuk tidak mengkategorikan produk kental manis sebagai produk susu bernutrisi untuk menambah asupan gizi.

Direktur Gizi Masyarakat, Ir. Doddy Izwardi, MA menegaskan bahwa kental manis tidak diperuntukkan bagi balita karena kadar gula di dalamnya sangat tinggi. Namun, perkembangan di masyarakat dianggap sebagai susu untuk pertumbuhan.

baca juga: Temuan Peneliti, Kotoran Bisa Prediksi Virus Corona Covid-19 Lebih Awal

"Kadar gulanya sangat tinggi, sehingga tidak diperuntukkan untuk itu," ujar Doddy dalam rilis yang diterima Suara.com, jaringan KLIKPOSITIF , Rabu (4/7).

Selama ini, produk susu kental manis selalu dipromosikan dalam iklan sebagai susu yang seolah-olah dijadikan minuman sehat bagi keluarga. Doddy menegaskan bahwa industri berhak untuk melakukan pengembangan produk, namun komposisi tetap harus diperhatikan.

baca juga: Kenali Jenis Gangguan Jiwa yang Bisa Muncul di Tengah Pandemi Corona

Dalam kesempatan lain, pakar gizi, Emilia Achmadi sependapat dengan Kemenkes RI. Menurutnya, meski berlabel susu , jenis minuman satu ini tak ubahnya sirup berperisa susu . Susu kental manis tak layak digolongkan menjadi susu karena kandungan susunya yang hanya sedikit.

"Kandungan gula dan lemaknya banyak, tetapi tidak ada manfaat susunya," ujar Emilia beberapa waktu lalu.

baca juga: Penerapan New Normal Indonesia, Ahli: Ada Desakan Kapital

Lalu susu manakah yang terbaik bagi manusia? Emilia menyebut bahwa ASI merupakan jenis susu terbaik bagi manusia karena nutrisinya yang paling mudah diserap tubuh. Namun peruntukkannya untuk bayi. Sementara bagi anak-anak dan dewasa, susu segar merupakan pilihan terbaik.

"Semakin alami sumbernya maka semakin baik kualitas nutrisinya bagi tubuh. Susu segar adalah pilihan terbaik, disusul pasteurisasi, UHT dan susu bubuk," imbuhnya. (*)

baca juga: Tanggapi Skema New Normal, Fadli Zon: Rakyat Bukan Kelinci Percobaan

Penulis: Agusmanto