23 Balita di Lubuk Kilangan Alami Kurang Gizi

Kepala Puskesmas Luki, Ns. Hj.Linda Hasmi, S.Kep
Kepala Puskesmas Luki, Ns. Hj.Linda Hasmi, S.Kep ()

PADANG, KLIKPOSITIF -- Selama 2017, Puskesmas Lubuk Kilangan (Luki), Kota Padang, menerima sebanyak 23 pasien kurang gizi. Dari jumlah tersebut, 15 di antaranya telah dinyatakan sembuh.

“Semua pasien kurang gizi itu merupakan balita. Sekarang masih ada delapan balita lagi yang masih menjalani proses pemulihan,” kata Kepala Puskesmas Luki, Ns. Hj.Linda Hasmi, S.Kep saat ditemui KLIKPOSITIF.com di ruang kerjanya, Selasa (16/1/2018) pagi.

Alumni STIKES Indonesia ini juga membeberkan ciri-ciri gizi kurang pada balita. Di antaranya, tinggi kurang meskipun balita nampak gemuk, kemudian berat badan dan tinggi balita tidak seimbang.

Baca Juga

Untuk menangani agar balita kurang gizi mendapat asupan gizi yang cukup, Linda menuturkan bahwa setiap bulan, petugas gizi Puskesmas Luki rutin memberikan makanan tambahan pemulihan dengan cara mengunjungi pasien gizi kurang ke rumahnya.

Menurut Linda, hal ini dilakukan, karena jika sudah disertai penyakit, maka akan berisiko terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita. “Di samping itu, petugas gizi juga mengimbau para orangtua untuk memperhatikan pengelolaan gizi kurang pada balita-nya,” ujar Linda.

Pemberian makanan tambahan pemulihan pada balita gizi kurang itu, sebut Linda, merupakan bagian dari 12 indikator Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

Rinciannya, yaitu selain balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan serta makanan tambahan pemulihan bagi balita gizi kurang, indikator lainnya adalah menanyakan apakah masyarakat, khususnya asangan suami-istri sudah menjalani program keluarga berencana (KB).

Kemudian, apakah ibu melakukan persalinan difasilitas ksehatan. Apakah bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap atau tidak. Memastikan apakah bayi mendapat ASI ekslusif.

“Bagi penderita TBC apakah diobatai atau tidak, dan memastikan apakah penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur,” bebernya.

Kemudian, tambah Linda, juga memastikan apakah penderita gangguan jiwa berat mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan, memantau siapa saja anggota keluarga tidak merokok dan yang merokok.

Memastikan apakah sudah ada keluarga yang menjadi anggota asuransi jaminan keshatan nasional (JKN). Selain itu, juga memastikan apakah keluarga mempunyai akses sarana air bersih, serta sudah mempunyai tempat jamban.

“Di samping memastikan PIS-PK itu sudah diterapkan atau belum oleh masyarakat, kami juga rutin melakukan sosialisasi tentang pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat dengan cara mengajak masyarakat untuk membiasakan cuci tangan pakai sabun, tidak merokok dan rutin makan buah serta sayur,” pungkas Linda.

[Cecep Jambak]

Editor: Riki S