Mengenal Erison J Kambari, Fotografer Asal Bukittinggi

Erison J Kambari
Erison J Kambari (Dokumentasi pribadi Erison J Kambari)

BUKITTINGGI,KLIKPOSITIF -- Bagi sebagian warga Sumatera Barat, khususnya Kota Bukittinggi dan sekitarnya, terutama yang aktif di sosial media, pasti sudah tak asing dengan nama Erison J Kambari.

Setiap hari, Fotografer ini meng-upload foto tentang budaya, alam, keindahan atau seputar kegiatan yang berbau Minangkabau. Bahkan nama Erison J Kambari ini melekat bagi sejumlah penggemar foto Minnagkabau yang eksis di Instagram maupun di Facebook.

Tak heran jika setiap foto yang di-upload-nya di like (disukai) ratusan hingga ribuan follower (pengikut). Bahkan foto-fotonya, sudah dibeli secara perorangan maupun instansi, serta menjadi ilustrasi bagi berbagai kalangan.

Baca Juga

Erison J Kambari juga dianggap sebagai tokoh inspiratif  dan berdedikasi tinggi dalam memperkenalkan Minangkabau ke dunia luar.  

Berikut petikan wawancara KLIKPOSITIF bersama Erison J Kambari :

Sebenarnya Anda berasal dari mana? Betulkah dari Kamang Agam?
Saya asli Bukittinggi. Orang Kurai, tepatnya di Pincuran Gauang, Tarok Dipo. Memang banyak yang menduga saya adalah orang Kamang. Mungkin karena sering motret di sana. Tapi, bagi saya Kamang sudah seperti rumah kedua, karena alamnya yang hijau.

Erison J Kambari, apakah itu nama asli Anda?
Aslinya nama saya adalah Erison. J Kambari adalah nama orang tua. J itu singkatan dari Jamaan, nama ayah. Sedangkan Kambari berasal dari nama ibu, yakni Kambariah. Kadang disingkat jadi EJK.

Kenapa kebanyakan objek foto Anda berada di seputaran Bukittinggi saja?
Begini, prinsip saya berkarya adalah sederhana saja, yakni yang terdekat saja. Ya itu kan berarti di wilayah Minangkabau asli yakni Luhak Tanah Data, Luhak Agam dan Limapuluah Koto. Yang dekat-dekat ini saja masih banyak yang belum terpotret.

Kapan pertama kali mengenal dunia Fotografi?
Sudah lama, sejak SMA malahan.Waktu itu sering bawa kamera ke sekolah, jamannya masih pakai film kameranya. Kalau yang intens, sejak tahun 2000.

Apa kamera pertama anda saat menggeluti dunia Fotografi?
Mereknya Sony, kamera pocket sih.Tapi sudah digital, namun tipenya saya sudah lupa. Lalu 2004, saya punya Prosumer (semi DLSR) Panasonic Lumix. Nah ini yang paling bersejarah, karena saya pakai hingga 2012. Sudah menghasilkan ribuan foto. Sekarang masih saya simpan kendati tak dipakai lagi.

Dari mana anda belajar memotret?
Sederhana saja, semuanya otodidak. Namun, karena aslinya saya adalah pelukis, foto-foto saya juga ikut terpengaruh jadinya. Sebenarnya simpel saja cara saya belajar. Saya tak terlalu paham soal teori-teori seperti pengaturan ISO, Shutter Speed atau lainnya, yang penting, setelah melakukan pemotretan, saya akan mencek hasilnya untuk mempelajari kekurangannya. Jadi, cara saya belajar bisa dibilang terbalik, dipotret dahulu, baru dipelajari.

Kapan pertama kali karya anda diperkenalkan ke masyarakat?
2008, waktu itu Facebook mulai booming. Sejak itu, saya mulai memposting foto-foto saya. Respon orang, sangat luar biasa. Saat itu belum banyak yang memposting hasil jepretannya seperti saya di Facebook . setiap hari saya selalu konsisten memposting. Tahun 2011 mulai banyak yang mengapresiasi foto-foto saya dengan penghargaan. Puncaknya 2012 saya dapat anugerah dari Malaysia akibat intens memposting foto tentang Minangkabau dan postingan itu terus berlanjut hingga sekarang. Saat ini, saya posting sekitar 3-5 foto perhari di Facebook atau Instagram.

Apakah Anda memang motret setiap hari?
Bagi saya, memotret adalah hobi. Kebanyakan orang mungkin menganggap saya memotret tiap hari. Padahal tidak, Senin-Sabtu saya bekerja, Minggu baru motret. Potret-potret yang saya posting tiap harinya itu kebanyakan berasal dari hasil jepretan hari Minggu.
Setiap foto yang saya posting,merupakan hasil jepret yang terbaik.Mungkin saya berbeda dari yang lain. Kalau yang lain, tentunya agak sedikit enggan memposting karya terbaiknya di media seperti Facebook.

Tidak takut jika karyanya dicuri orang lain?
Tidak, malah saya tak terlalu peduli jika foto saya diambil atau dicuri orang, sebab bagi saya memotret adalah hobi. Saya pun tak senang jika foto saya dipuji-puji berlebihan.

Sudah berapa foto yang anda hasilkan?
Saya taksir sudah sekitar 8.000-an.Semuanya natural tanpa dikonsep.

Kenapa anda sering terlihat 'hunting' sendirian?
Betul. Saya sering motret sendirian. Tapi bukan berarti saya enggan berkawan, sebab saya tak punya jadwal khusus hari ini atau itu harus motret. Jadinya ya sering sendiri.

Apa pesan yang bisa disampaikan dalam setiap foto anda?
Sebuah foto bisa menggantikan 1.000 kata, bagi saya kita tak perlu bercerita banyak untuk menyampaikan sebuah hal kepada orang lain. Saya pun memotret ini untuk menyampaikan pesan jika kita melihat Ranah Minang dengan keindahan, maka kita akan melihat hal-hal yang indah. Dan yang indah tentang Ranah Minang itu tak ada habisnya.

[Hatta Rizal] 

Penulis: Iwan R